Jakarta (ANTARA) - Mantan Presiden Direktur PT Liga Indonesia, Andi Darussalam Tabusala, mengingatkan jangan sampai pengurus PSSI yang baru mengulangi kesalahan yang sama, melainkan memperbaiki hal-hal yang memang dianggap keliru.
"Semua mengenai kompetisi ada aturannya. Suka atau tidak suka, kita harus menghormati keputusan yang pernah dikeluarkan oleh kepengurusan PSSI sebelumnya," ujar Andi Darussalam kepada wartawan di Jakarta, Minggu.
Hal itu dikatakan Andi terkait dengan beberapa kebijakan atau keputusan PSSI yang dikeluarkan, hendaknya didasarkan atas aturan main yang berlaku, termasuk dalam hal merevisi hukuman sanksi pencoretan keanggotaan yang pernah dijatuhkan kepada beberapa klub pada kepengurusan sebelumnya.
"Kalau aturannya akan diubah, maka lakukanlah perubahan itu di kongres. Kita tidak bisa berbuat sewenang-wenang. Kalau ada kekurangan pada kepengurusan sebelumnya, maka diperbaiki, tetapi bukan dengan mengulang kesalahan yang sama," ujarnya.
Ia mengingatkan bahwa sebuah keputusan Komite Disiplin tak bisa diubah oleh rapat Komite Eksekutif. Kalau pun Ketua Umum PSSI ingin menggunakan hak prerogatifnya, hal itu sah-sah saja asalkan tidak menjadi berang apabila hal itu menjadi bahan cemoohan karena mengulang kesalahan yang sama.
Andi Darussalam yang pernah menjadi manajer Timnas Indonesia selama bertahun-tahun pun mengingatkan, jika bersamaan dengan pergantian kepengurusan menghendaki adanya reformasi, maka lakukan pula hal itu secara proporsional.
Mengenai berkejarannya waktu pelaksanaan kompetisi dengan pemenuhan aspek legal klub-klub yang akan berkompetisi, Andi mengatakan bahwa pembatasan yang diberikan oleh AFC adalah pada tahun 2012-2013, dimana pada saat itu semua klub yang berkompetisi di ajang liga profesional harus sudah memenuhi semua aspek yang ditetapkan oleh FIFA dan AFC.
"Menghadapi mepetnya waktu, kita hanya memiliki dua pilihan, yaitu perbaiki semuanya melalui kongres (kongres tahunan atau Rakernas), atau kompetisi ditunda untuk sementara waktu untuk membenahi tatanan kompetisi baru ketimbang berjalan dengan compang-camping. Penundaan itu tidak ada salahnya, dan AFC pasti mau menerimanya."
"Batas waktu (deadline) dari AFC itu harus kita terima. Penundaan kompetisi jika dimaksudkan untuk menata kembali adalah sah saja. Tetapi semua harus menghadapi risiko jika para juara kompetisi untuk sementara tak bisa ikut serta di ajang Liga Champion Asia," ujarnya.
Andi menambahkan agar semua pihak memberikan kesempatan kepada pengurus PSSI untuk membenahi persepakbolaan di Tanah Air, tetapi jangan sampai diabaikan bahwa apa yang dilakukan oleh pengurus PSSI akan berada dalam pengawasan para anggota dan pendukung mereka sendiri.
"Semua mengenai kompetisi ada aturannya. Suka atau tidak suka, kita harus menghormati keputusan yang pernah dikeluarkan oleh kepengurusan PSSI sebelumnya," ujar Andi Darussalam kepada wartawan di Jakarta, Minggu.
Hal itu dikatakan Andi terkait dengan beberapa kebijakan atau keputusan PSSI yang dikeluarkan, hendaknya didasarkan atas aturan main yang berlaku, termasuk dalam hal merevisi hukuman sanksi pencoretan keanggotaan yang pernah dijatuhkan kepada beberapa klub pada kepengurusan sebelumnya.
"Kalau aturannya akan diubah, maka lakukanlah perubahan itu di kongres. Kita tidak bisa berbuat sewenang-wenang. Kalau ada kekurangan pada kepengurusan sebelumnya, maka diperbaiki, tetapi bukan dengan mengulang kesalahan yang sama," ujarnya.
Ia mengingatkan bahwa sebuah keputusan Komite Disiplin tak bisa diubah oleh rapat Komite Eksekutif. Kalau pun Ketua Umum PSSI ingin menggunakan hak prerogatifnya, hal itu sah-sah saja asalkan tidak menjadi berang apabila hal itu menjadi bahan cemoohan karena mengulang kesalahan yang sama.
Andi Darussalam yang pernah menjadi manajer Timnas Indonesia selama bertahun-tahun pun mengingatkan, jika bersamaan dengan pergantian kepengurusan menghendaki adanya reformasi, maka lakukan pula hal itu secara proporsional.
Mengenai berkejarannya waktu pelaksanaan kompetisi dengan pemenuhan aspek legal klub-klub yang akan berkompetisi, Andi mengatakan bahwa pembatasan yang diberikan oleh AFC adalah pada tahun 2012-2013, dimana pada saat itu semua klub yang berkompetisi di ajang liga profesional harus sudah memenuhi semua aspek yang ditetapkan oleh FIFA dan AFC.
"Menghadapi mepetnya waktu, kita hanya memiliki dua pilihan, yaitu perbaiki semuanya melalui kongres (kongres tahunan atau Rakernas), atau kompetisi ditunda untuk sementara waktu untuk membenahi tatanan kompetisi baru ketimbang berjalan dengan compang-camping. Penundaan itu tidak ada salahnya, dan AFC pasti mau menerimanya."
"Batas waktu (deadline) dari AFC itu harus kita terima. Penundaan kompetisi jika dimaksudkan untuk menata kembali adalah sah saja. Tetapi semua harus menghadapi risiko jika para juara kompetisi untuk sementara tak bisa ikut serta di ajang Liga Champion Asia," ujarnya.
Andi menambahkan agar semua pihak memberikan kesempatan kepada pengurus PSSI untuk membenahi persepakbolaan di Tanah Air, tetapi jangan sampai diabaikan bahwa apa yang dilakukan oleh pengurus PSSI akan berada dalam pengawasan para anggota dan pendukung mereka sendiri.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar