Senin, 22 Agustus 2011

Pertumbuhan Kredit Konsolidasi BII Naik 26 Persen

Jakarta (ANTARA) - Pertumbuhan kredit konsolidasi PT Bank Internasional Indonesia Tbk (BII) dalam enam bulan pertama 2011 mencapai Rp59,5 triliun naik 26 persen dibanding periode yang sama 2010 Rp47,3 triliun.


Pejabat sementara Presiden Direktur BII, Rahardja Alimhazah dalam siaran persnya di Jakarta, Senin mengatakan, pertumbuhan kredit tersebar merata di seluruh segmen usaha BII di mana kredit Konsumer tumbuh sebesar 28 persen, diikuti kredit Korporasi dan UKM & Komersial masing-masing tumbuh 26 persen dan 24 persen

Sedangkan total aset Bank per 30 Juni 2011 meningkat sebesar 25 persen menjadi Rp84,4 triliun dari Rp67,7 triliun per 30 Juni 2010, katanya.
Ia mengatakan, kemampuan BII dalam menciptakan produk yang sesuai dengan kebutuhan nasabah, investasi pada infrastruktur Bank dan perbaikan secara terus-menerus pada semua aspek operasional telah menunjukkan pada jalur yang tepat.
Hal tersebut dalam upaya meningkatkan pangsa pasar dan mencapai aspirasi menjadi penyedia jasa keuangan terbaik pada segmen pasar yang dilayani, ucapnya.
Jumlah simpanan nasabah meningkat 26 persen menjadi Rp65,9 triliun, Giro tumbuh 33 persen menjadi Rp12 triliun dan Tabungan naik 18 persen menjadi Rp14,6 triliun. Sedangkan Loan to deposit ratio (LDR) stabil pada posisi 90 persen seperti tahun lalu, ucapnya.
Ia mengatakan, ekspansi jaringan cabang dan jaringan elektronik, program loyalitas dan akuisisi yang inovatif, peluncuran produk-produk baru yang didukung dengan kualitas layanan prima akan memberikan kontribusi terhadap pertumbuhan simpanan nasabah Bank.
"Selain itu peluncuran mobile banking dan internet banking dengan platform terbaru yang akan diluncurkan dalam waktu dekat memungkinkan Bank lebih menarik nasabah baru, dengan demikian akan memperluas basis nasabah kami," katanya.
Pertumbuhan Bank pada seluruh segmen usaha diikuti juga dengan kualitas aset yang membaik. Tingkat Non performing loans (NPL bruto) turun menjadi 2,45 persen pada Juni 2011 dari 2,88 persen pada Juni 2010 dan NPL bersih membaik menjadi 1,22 persen dari 1,87 persen.
Peningkatan kualitas aset dicapai melalui upaya bank yang berkelanjutan dalam memperkuat manajemen risiko dan dan pemrosesan kredit, sementara itu program restrukturisasi kredit dilakukan lebih cepat dan dengan tetap melakukan pemantauan yang ketat terhadap debitur yang ada, tuturnya.
Total penyisihan kerugian penurunan nilai atas kredit naik 19 persen menjadi Rp561 miliar pada Juni 2011 dari sebelumnya hanya Rp473 miliar.
Pendapatan bunga bersih (NII) Bank naik 25 persen secara tahunan mencapai Rp1.945 miliar. Persaingan ketat di industri perbankan telah memberikan tekanan terhadap "net interest margin" (NIM), namun BII mampu mempertahankan NIM pada 5,43 persen.
Pendapatan operasional lainnya (fee based income) per 30 Juni 2011 meningkat 13 persen menjadi Rp1.207 miliar dibanding Rp1.065 miliar pada periode yang sama 2010.

Laba bersih Bank meningkat 13 persen menjadi Rp367 miliar, peningkatan ini didukung oleh pertumbuhan pada seluruh segmen usaha dan perbaikan operasional Bank secara keseluruhan.
Rasio Kecukupan Modal (CAR) mencapai 13,1 persen jauh di atas ketentuan minimum Bank Indonesia sebesar 8 persen. Penerbitan Obligasi Subordinasi pada April 2011 telah memperkuat tier 2 (modal pelengkap) Bank sebesar Rp1,5 triliun. Total tier 1 (modal Inti) dan tier 2 (modal tambahan) per 30 Juni 2011 mencapai Rp9.2 triliun.
Maybank Chairman dan Presiden Komisaris BII, Tan Sri Dato Megat Zaharuddin Megat Mohd Nor bin menambahkan, pihaknya senang upaya BII untuk memperluas jaringan dan meningkatkan layanan kepada nasabah telah mendukung pertumbuhan yang kuat.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar